Rinduku

Sudah beberapa hari ini atau bahkan beberapa minggu ini aku merasa sangat sulit untuk memandangmu. Atau hanya sekedar menanyakan keadaanmu, tugas akhirmu, kesibukanmu secara langsung. Walau aku tak tahu secara langsung apa yang terjadi pada dirimu karena keluargamu, tapi aku merasa sudah menjadi satu hati dengan dirimu. Tapi sayang, perasaan itu hanya ada pada perasaanku bukan di perasaanmu.

Rindu ingin bicara, bercanda, ngobrol banyak hal, cerita dengan kamu, sangat rindu. Mungkin karena permasalahanmu sehingga kamu kurang begitu merasakan kegalauan hatiku. Tapi bukan berarti engkau kehilangan perasaan cintamu terhadapku, aku yakin itu dan aku percaya itu. Engkau sudah pernah bilang “pasti datang” saat aku menanyakan tentang menunggumu. Dan tentu aku yakini itu.

Anganku hanya sebatas angan. Untuk saat ini memang aku bukan siapa-siapamu. Aku bukan sahabatmu, aku bukan pacarmu, aku bukan saudaramu. Saat ini hanya sebatas teman meski pernah aku menjadi pacarmu. Sulit menerima keadaan itu, tapi begitulah hasilnya atas kebodohan, kekerasan, keegoisan dariku. Setiap detik yang ada dalam pikiranku dan perasaanku hanyalah namamu dan namamu. Entah, mungkin sudah pantas aku masuk rumah sakit jiwa atau hanya konsultasi ke psikiater.

Saat ini aku menjadi jauh lebih minder hanya untuk berkunjung ke rumahmu. Entah apa penyebabnya, tapi aku merasakan itu walau dengan seribu teman datang ke rumahmu. Aku juga menjadi lebih takut saat ingin berencana datang ke rumahmu. Seakan dirimu berada di balik tembok yang sangat-sangat tebal. Ah tentu bukan tembok raksasa cina atau tembok pemisah jerman barat dan jerman timur. Tapi penghalang ini terasa begitu nyata seakan-akan membuatku lemas tak bisa bernafas. Aku di surabaya memang tak memiliki apa-apa kecuali baju untuk kuliah, handphone untuk komunikasi dengan orang rumah, dan sebuah laptop yang sehari-harinya aku gunakan untuk memutar musik, main counter strike dan mengerjakan tugas kuliah (kalau toh harus diketik). Kosku pun hanya berukuran 3×3 meter, biasanya banjir saat hujan lebat mengguyur mulyorejo hasilnya biaya kos pun paling murah jika dibandingkan dengan kos-kos lain di sekitar kampus. Saat ke kampus aku hanya mengandalkan otot-otot kakiku. Tak ada setetes bensin untuk menggunakan sepeda motor karena memang aku tak menggunakan motor. Meski ada satu motor di rumah, tapi itu satu-satunya harta keluargaku yang bisa digunakan bapakku mengajar di sekolah dasar. Hasilnya, dengan memanfaatkan teman-teman kuliah dengan cara meminjam sepeda motor atau minta ditemani untuk ke rumahmu. Selain itu, aku pun tak bisa mengajakmu keluar jalan-jalan meski engkau sering mengajakku.

Beberapa waktu yang lalu kamu pun sudah tahu tentang kebiasaan burukku, yang memanfaatkan ce-esan im3 aku menceritakannya padamu. Aku berani menceritakannya karena memang aku tak ingin engkau kecewa saat tahu aku, pacarmu, memiliki perilaku buruk. Karena itulah aku tak ingin engkau salah menilaiku yang sepertinya alim, baik, pintar, dan sebagainya. Aku tak sebaik yang engkau pikirkan. Atau mungkin aku jauh lebih kotor dari teman-temanmu yang lain. Aku tak mengharapkan belas kasihmu setelah menceritakannya padamu. Aku hanya mengharapkan engkau tak salah orang untuk menjadikan aku pacarmu untuk kedua kalinya. Aku akui itu, masih banyak laki-laki yang mendekatimu  jauh lebih baik dariku.

Setiap ada waktu aku berusaha mengajakmu ngobrol, makan di kantin, atau ke perpus. Bukan karena ingin kamu perhatikan tapi lebih pada rinduku padamu. Ternyata di saat yang sama engkau sedang menemani sahabatmu. Saat itu aku tak ingin mengganggu acaramu. Lebih baik aku mundur daripada memaksamu ikut denganku, menurutku. Sesungguhnya setiap aku mengajakmu aku ingin hanya kamu dan aku. Tapi memang bagusnya ada orang ketiga agar tak timbul fitnah. Meski demikian, sungguh perasaanku sudah terlalu cinta, sayang, dan rindu akan dirimu. Saat engkau tanya “sudah makan? Ni aku sama si-X mau makan di kantin?” dengan X adalah nama orang sembarang, dengan sengaja aku jawab “sudah” meski sebetulnya ingin sekali bisa makan hanya dengan kamu. Aku sadari itu, karena itulah aku tak akan mengganggu waktumu dengan si-X.

Pernah aku bermimpi pada waktu kelulusanku (wisuda—karena termotivasi teman kos yang sudah wisuda). Di saat itu aku merasa orang yang paling berharga bagiku ikut dalam acara sakral itu. Bapak-ibuku dan dirimu. Saat itu hanya perasaan gembira dan bangga akan kelulusanku dan dirimu. Entah setan apa yang menghinggapi alam bawah sadarku hingga bisa bermimpi sedemikian detail perasaan yang muncul. Saat di luar auditorium, seakan engkau sedang mendekap erat tanganku dan membisikkan kalimat “aku bahagia bisa membuktikan pada orang tuaku bahwa aku bisa menyelesaikan tugas akhirku”. Yah, aku tak tahu apa yang membawa dirimu ada di mimpiku. Dan itu tidak satu kali.

Seringkali aku menyakitimu, entah karena kata-kata di smsku ataupun pembicaraan di telpon. Mungkin secara tak sengaja itu lah diriku. Tapi saat ini, aku sengaja membuatmu membenciku supaya aku menghilangkan perasaanku atas dirimu. Bukan karena perasaan cintaku padamu hilang, tapi aku tak ingin perasaan cintaku ini seringkali membuatmu sakit hati. Pernah aku sakit hati karenamu yang menyebabkan beberapa jam aku bisa lupa dengan dirimu. Karena itu, entah bagaimana aku bisa memiliki ide untuk memintamu sesering mungkin membuatku sakit hati. Ini salah satu cara saja supaya aku tidak terlalu berharap lebih engkau akan memperhatikan perasaanku. Yang selalu membuatku merasa sakit ketika banyak orang masih beranggapan bahwa aku masih pacarmu. Dan itu pun jauh dari kenyataan. Aku bukan pacarmu. Dan sepertinya aku juga bukan teman yang baik untukmu. Kalau pun dirimu tahu, setiap aku merasa rindu padamu dan tak ada respon darimu, aku selalu ingin menangis. Tentu saja tak secara langsung tangisanku. Sesak di dada, betul-betul sesak. Dalam anganku yang kotor, ingin sekali aku bisa memegang tanganmu atau mendekapmu untuk menunjukkan ingin sekali aku membuatmu nyaman sehingga akan lebih terasa ringan saat engkau menghadapi masalah. Tapi aku bukan laki-laki romantis. Karena itulah, aku hanya bisa merasa sesak saat tak bisa bersamamu meski sebatas ngobrol.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.