Cerita

Liburan semester 5,

Minggu pertama bulan februari

Saat itu entah kenapa sebelum tidur, terbersit sesuatu tentang dirimu. Ku tak tahu kenapa bisa teringat-ingat dirimu. Apa mungkin karena seharian ku lihat film-film yang bernuansa romantis, atau mungkin karena kebetulan selesai ber-sms ria denganmu?

Mungkin saja 3 menit sebelum pukul  02.00 waktu Katerban, Baron masih ku ingat dirimu duduk di sampingku pada pinggiran teras pertokoan di pinggir jalan. Tak tahu yang terasa saat duduk bersamamu canggung, malu, rindu. Saat kau mulai pembicaraanmu, kau mengatakan dengan lirih sesuai dengan karakter suaramu kepadaku,

“Fi, maafkan aku. Aku sudah menikah, dan sekarang aku sudah hamil”.

Terasa diriku seperti tersambar petir. Saat itu kulihat tubuhmu masih seperti biasanya. Tak terlihat sedikitpun kau berbadan dua. Dengan tatapan sayu, kau katakan padaku

“Aku pulang Fi”

Dan belum sempat ku berkomentar, protes, marah, kau sudah berjalan meninggalkanku di kegelapan senja kotaku. Tanpa arah tujuan, ku masuki angkot yang biasa kupakai untuk kembali ke rumah. Tanpa begitu mempedulikan siapa saja yang sudah di dalamnya, tiba-tiba ku dikagetkan dengan sapaan yang suaranya ku kenal betul.

“Hei,Fi. Dari mana?”

“Oh, dari tempat biasa” , agak lama ku menjawab pertanyaannya. Yah, dia temanku dan temannya pula. Saat itu kurasa kalau dia menyadari keadaanku kemudian dia memulai pembicaraan denganku. Sepertinya yang akan disampaikanya sangat penting. Kulihat dia mulai mendekat dan agak berbisik padaku.

“Kamu habis ketemuan sama dia?”

“Hmm..”, jawabku.

“Apa kau sudah diberitahunya?”, dia mencoba memastikan jawabanku.

Hanya kujawab dengan anggukan. Tiba-tiba dia mengatakan sesuatu padaku yang jauh lebih membuatku tak percaya.

“Sebenarnya, dia sudah menikah beberapa bulan yang lalu dengan saudaraku. Sewaktu dia datang ke rumahmu, sebenarnya dia sudah hamil satu bulan”.

Tak berselang lama, aku langsung turun dari angkot dan kupastikan kebenarannya. Sengaja ku tinggalkan dia di dalam angkot tanpa melihat sedikitpun raut mukanya.

Selama perjalanan ke rumahnya, yang kuingat-ingat dari perkataannya adalah “ sewaktu dia datang ke rumahmu, sebenarnya dia sudah hamil satu bulan” dan terus kuingat-ingat. Sesampai di depan rumahnya, ku tak berani langsung mengetuk pintu rumahnya. Terdiam tanpa gerak sedikitpun. Tiba-tiba pintu rumahnya ada yang membuka. Sesosok pria dewasa dengan senyum ramah sudah berada di depanku.

“Kamu Luthfi ya?”

Dengan sedikit gagap aku menjawabnya,

“Eh, iya”.

“Oh, masuk aja. Aku suaminya”

Sambil menjabat tanganku dia mempersilahkan aku masuk. Agak tak percaya ternyata yang ku temui adalah suaminya sendiri. Panas, grogi, malu, ah, kenapa juga ku memusingkannya. Tapi seluruh otot tubuhku terasa tegang. Badanku panas dingin saat kulihat dia datang menghampiriku dengan menggunakan pakaian warna krem dan berenda di ujung rok. Saat ku coba menggerakkan tubuhku untuk berdiri, terasa berat hingga nafasku pun begitu sesak. Saat berhasil ku gerakkan tubuhku, ternyata aku sudah terjaga dari tidurku. Banyak peluh di dahi, badan, lenganku. Berat nafasku rasanya. Benar, ternyata hanya mimpi. Jam 5 pagi, saat kulihat jam di layar handphoneku. Mendadak ku sms orang yang ada di mimpiku hanya untuk memastikan apakah dia benar memiliki saudara laki-laki.

Meski hanya sekedar mimpi, hampir dua minggu berselang masih terasa canggung untuk bertemu. Bahkan ketika terpaksa harus berbicara dengan wanita yang dalam mimpiku dia sudah menikah, terasa tak karuan di otak dan perasaanku. Walau demikian, ku coba untuk melupakan mimpi aneh meskipun benar temanku yang ku tanyai tentang saudaranya memang mempunyai saudara laki-laki.

21 Pebruari 2010, malam yang aneh terjadi kembali padaku. Padahal paginya masih sangat senang karena temanku menginap semalam di kosku. Yah, teman SMA. Sudah lama kami tak berbincang, yang akhirnya kuhabiskan malam minggu dengan mengobrol tanpa akhir hingga minggu siang. Sepertinya kepenatan pikiranku yang kubawa dari rumah sudah hilang.

Sesaat setelah ku masuk dalam satu ruangan, begitu ramai hiruk pikuk orang yang ramai sedang melihat beberapa orang dari kepolisian membawa jenazah yang tinggal tulang saja. Saat itu hanya terasa biasa tanpa sedikitpun ketakutan. Sesaat kemudian handphone ku berbunyi dan kujawab tanpa melihat siapa yang menelpon malam-malam begini.

“Baik”, jawabku mengakhiri pembicaraan.

“Kamu mau keluar?”, pertanyaan yang dilontarkan wanita yang pernah ada di mimpiku sebelumnya.

“Iya, barusan teman-teman minta bantuan untuk mengerjakan tugas”, jawabku tak kalah lembutnya dengan suara khasnya. Senyum simpul kulihat di lekukan wajahnya yang semakin jelas mendekatiku. Tangan halusnya mulai menyapa dengan lembut kedua tanganku. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.

“Oh, iya jangan lupa bawa handphone. Jangan seperti kemarin kau melupakannya” pesannya yang kemudian ku pergi.

Cukup cerah hari itu di sekitar kolam renang. Kilauan pantulan cahayanya bak emas terpampang dengan indah tanpa penghalang sedikitpun. Tak terasa sebuah kecupan hangat telah mendarat di pipiku dan kedua tangan halus sudah berada di lingkar pinggangku.

“Hei, kok diam sih?Wah, jangan-jangan membayangkan yang nggak-nggak?” tanyanya dengan senyum yang benar-benar bisa membuat  hati tenang.

“Ah, kau bisa saja. Oh, iya, teman-teman gengmu apa jadi ngajak kita jalan-jalan?” tanyaku dengan penuh perhatian.

“Hmm,,,” jawabnya se-enaknya.

“Loh,kok hmm, jadi nggak?” tanyaku memastikan.

“Iya, mereka jadi ngajak kita jalan-jalan. Eh, ternyata indah juga ya liat matahari mulai naik di temani cowok sepertimu”.

“Wah, ngrayu nih?” balasku tak kalah mesra.

Sesaat kurasakan hangat dan nyaman sebuah dekapan tangan halus wanita yang tak pernah bisa ku lupa. Namun tiba-tiba terasa dingin kaki dan tanganku. Segera ku mengerutkan seluruh tubuhku agar tak kurasa dingin. Sayang, tetap terasa dingin. Setelah ku membuka mataku, jam 5 pagi ternyata yang kulihat di handphoneku. Oh, ternyata hanya mimpi. Kenapa dalam mimpiku kali ini bersama dia namun penuh dengan kebahagiaan dan kenyamanan. Sudah kedua kalinya ku bermimpi tentangnya. Meski nyatanya tak mungkin berani ku menatap matanya langsung selama satu menit, tapi terasa beda di mimpiku. Yah, nyatanya tak mungkin ku merasakan seperti di mimpiku paling tidak ku pernah merasakan dekapan hangatnya dan pegangan tangannya yang halus meski hanya sebatas mimpi. Yah, hanya sebatas mimpi.

Kaitkata: ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.